Oleh: ahmadbahtiar25 | Agustus 28, 2008

Gairah Muda Dalam Musik Angklung

BANDUNG, JUMAT–Tidaklah serta merta hal yang berbau tradisional itu identik dengan tua, kolot, dan anti-perubahan. Angklung salah satunya. Alat musik dari bambu ini mulai populer di kalangan remaja. Dimainkan sebagai simbol kebersamaan di pesta-pesta penyambutan tamu, pensi, hingga festival internasional.

Para remaja menjadi pelakunya. Angklung pun masuk ke sekolah-sekolah dalam wadah lembaga ekstrakurikuler. Salah satu nya Keluarga Paduan Angklung (KPA) SMAN 3 Kota Bandung. KPA adalah ekskul yang paling digandrungi di sekolah favorit ini. Tiap tahunnya, ekslu ini rata-rata menjaring 90 anggota baru dari sekitar 350 siswa baru.

Angklung itu intinya dimainkan banyak orang. Makanya, kekeluargaan sangatlah kental di sini , tutur Nerissa Arfianna, Ketua KPA SMAN 3 Kota Bandung, Jumat (22/8). Untuk bisa bermain angklung, tidaklah butuh keahlian khusus. Yang lebih penting adalah kekompakan, ketekunan, dan paham peran masing-masing. Yang penting satu suara dan blend (menyatu) membentuk harmoni. Tidak ada yang saling menonjol, tuturnya.

Namun, faktor kreasi pula lah yang akhirnya menentukan. Di tangan mereka, alat musik bambu ini diberi sentuhan kontemporer. Alunan nada angklung dipadukan dengan nada-nada pengiring dari ragam alat musik modern macam drum, bass, hingga gitar listrik. Maka, tidaklah mengherankan, mereka mampu memainkan lagu-lagu populer ala Alicia Keys sampai yang alternatif macam Time is Running Out dari Muse. Kuncinya ada pada aransemen lagu.

Warna kontemporer ini pula yang tampil mendominasi dalam Konser Orkestrasi Angklung VI , beberapa bulan lalu. Orkestra dwi tahunan KPA SMAN 3 Bandung yang mengambil tema Fun in The Air ini mendobrak kelaziman dan kekakuan yang melekat pada sebuah orkestra alat musik tradisional. Orkestra ini kami padukan dengan fesyen show, tutur Annisa Nur Fitriani, pengurus KPA. Lagu-lagu yang dibawakan pun menceritakan tentang music legacy , perkembangan musik dari era rock and roll, boysband, hingga rock alternative di era kekinian.

Warna kontemporer inilah yang pada kenyataannya menjadi elemen penentu agar angklung bisa diterima, eksis, dan bahkan digandrungi anak-anak muda saat ini. Dengan alasan yang sama, Saung Angklung Udjo yang notabene adalah perguruan angklung, menyesuikan perubahan zaman ini secara dinamis. Dalam berbagai pertunjukan, yang lagi-lagi dilakukan anak-anak muda, keberadaan alat musik pengiring: simbal, drum, dan bas tidak lagi diharamkan. Begitu pula ragam pilihan jenis lagunya yang tidak lagi melulu folklore.

Pada zaman Mang Udjo, tidak boleh ada simbal. Kalau ada bass pun hanya bisa dibunyikan pelan-pelan. Lagu-lagu yang dipilih yang tradisional banget, kenang Nadia Puspa, murid Mang Udjo yang kini menjadi salah satu master of ceremonies (MC) Saung Angklung Udjo. Adaptasi bermusik tetapi tanpa harus meninggalkan kekhasan tradisional adalah sebuah konsekuensi dari perubahan zaman. Kontemporerisasi pun jadi pilihan.

Regenerasi

Sebab, regenerasi menjadi kunci dari kelestarian budaya, termasuk angklung. Atas dasar inilah, seperti yang diungkapkan Maulana, Sales and Marketing Manager Saung Angklung Udjo, sosialisasi penggunaan angklung di kalangan anak-anak dan remaja jadi salah satu misi lembaganya. Misi ini salah satunya dikongkretkan melalui acara Angklung Resital yang diikuti siswa-siswa usia sekolah di Bandung. Kegiatan ini akan dilaksanakan Minggu (24/8) ini.

Di tingkat dunia, angklung mendapat apresiasi yang sangat besar. Ini terlihat dari serangkaian kunjungan KPA SMAN 3 Bandung ke Yunani dan Italia pada Juli Agustus dalam rangka Conference International Society of Music Education dan festival folklore di Bologna. “Ada seorang profesor musik dari Amerika yang sampai memuji, penampilan angklung dari kami adalah yang terbaik dari yang lain,” kenang Annisa. Jika warganegara lain bisa mengapresiasi, mengapa kita tidak bisa lebih baik?

<a href=’http://ads.kompas.com/www/delivery/ck.php?n=ac34aa1b&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE’ target=’_blank’><img src=’http://ads.kompas.com/www/delivery/avw.php?zoneid=50&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&n=ac34aa1b’ border=’0′ alt=” /></a>
<a href=’http://ads.kompas.com/www/delivery/ck.php?n=afdefdff&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE’ target=’_blank’><img src=’http://ads.kompas.com/www/delivery/avw.php?zoneid=120&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&n=afdefdff’ border=’0′ alt=” /></a>
<a href=’http://ads.kompas.com/www/delivery/ck.php?n=a8f3d531&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE’ target=’_blank’><img src=’http://ads.kompas.com/www/delivery/avw.php?zoneid=121&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&n=a8f3d531′ border=’0′ alt=” /></a>

POLLING
Siapa, menurut anda, yang paling berhak untuk mendapat hak asuh atas Al, El, dan Dul?
Maia
Dhani

Sit


Beri tanggapan

Your response:

Kategori